Skip to main content

Jangan Menunggu Usia 70


Di usianya yang sudah lebih dari 70 tahun, lelaki itu bertutur: “Sewaktu muda, setiap orang mungkin punya angan-angan dan keinginan yang serupa yakni ingin punya anak, istri, harta, kedudukan, rumah yang megah serta aneka fasilitas yang diyakini akan membuat hidup terasa indah. Saya juga begitu. Tapi kini, di usia sesenja ini, ketika anak-anak sudah berkeluarga, rumah menjadi sepi, yang saya inginkan cuma satu: mati dalam keadaan husnul khotimah (baik di penghujung). Apa yang saya rasakan mungkin siklus hasrat yang juga dialami manusia secara umum. Masa muda penuh dengan cita-cita menggebu terhadap kehidupan dunia, masa tua keinginan itu sudah lewat dan diganti dengan harapan tentang hidup setelah kematian nanti.”

Pernyataan singkat lelaki tua itu membuat saya merenung. Beliau beruntung bisa mencapai usia lebih dari 70 tahun dan bertemu dengan cita-cita mulianya yakni wafat dalam keadaan husnul khotimah. Bagaimana jika kita meninggal sebelum mencapai usia 70-an tahun dan belum memiliki kesadaran atau keinginan meraih gelar husnul khotimah? Bagaimana jika pada masa-masa menggebu mengejar kehidupan dunia dan belum terfikir soal angan-angan kehidupan setelah mati kita dipanggil menghadap-NYA? Bagaimana jika kita mati muda pada saat belum “serius” memiliki niat meraih kenikmatan di akhirat nanti?

Jawabannya sederhana. Kita tak perlu menunggu usia 50, 60, atau 70 tahun untuk memiliki keinginan mati dalam keadaan husnul khotimah. Kita harus punya visi kehidupan kedua itu sejak dini sebab kematian tak pernah diketahui kapan akan tiba. Dan kita harus mulai menseriusi proyek masa depan itu sejak sekarang, tak perlu menunggu usia 70.

Lelaki tua itu mungkin tak berniat menasihati saya soal itu. Ia hanya bercerita dalam sebuah obrolan ringan. Namun, ceritanya membuat saya tersadar akan hakikat kematian yang bisa datang kapan saja serta visi tentang kehidupan setelah kematian nanti. Ia menyadarkan saya agar tak menunggu usia 70 tahun untuk bercita-cita mulia: wafat dalam keadaan husnul khotimah. Sebab, tak semua orang bisa mencapai usia 70.

Comments

Popular posts from this blog

Kunci Keberhasilan Pola Kemitraan Bagi Sektor Perikanan

Undang-undang No 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah mendefinisikan kemitraan sebagai kerjasama dalam keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak langsung, atas dasar prinsip saling memerlukan, mempercayai, memperkuat, dan menguntungkan yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan Usaha Besar. Adapun pola kemitraan yang dianut dalam undang-undang tersebut berupa inti-plasma, subkontrak, waralaba, perdagangan umum, distribusi dan keagenan, bagi hasil, kerjasama operasional, usaha patungan ( joint venture ), dan penyumberluaran ( outsourcing ). Dari berbagai pola kemitraan tersebut, penulis tertarik memberikan pandangan terhadap praktik pola kemitraan inti-plasma yang selama ini dijalankan di Indonesia. Pola kemitraan inti-plasma ini diperkenalkan Bank Dunia (World Bank) era 1970-an yang diterapkan dalam program pertanian sebagai pengganti model perkebunan skala besar. Sejak saat itu, Pemerintah Indonesia mengeluarkan serangkaian Keputusan Presiden s

Lulus Tes CPNS Tanpa Curang

Ada beberapa teman yang bertanya kepada saya tentang tips-tips supaya lulus tes tulis CPNS. Saya memang punya pengalaman tiga kali ikut tes tulis CPNS dan semuanya lulus. Dua kali lulus tes tulis CPNS dosen, 1 kali lulus tes CPNS pemda. Tahun 2007 dan 2008 saya lulus tes CPNS dosen, tapi gagal di tes wawancara dan microteaching. Akhir 2008, saya lulus tes CPNS pemda yang mengantarkan saya pada profesi baru sebagai calon abdi negara. Banyak orang yang pesimis dengan proses rekrutmen CPNS karena sejarah perekrutan calon-calon pelayan masyarakat ini kerap diimbuhi kasus-kasus ketidakberesan beraroma KKN. Kasus suap, perjokian, serta nepotisme memang selalu mengemuka. Bahkan ada juga yang berujung di meja hijau. Namun, seiring reformasi birokrasi yang rajin didengungkan banyak kalangan, penegakkan hukum yang mulai tumbuh, ditambah media massa yang kritis, rasanya kita tak boleh kehilangan optimisme bahwa ke depan rekrutmen PNS akan berjalan secara jujur. Ketika saya akan mengurus Sur

Pemburu Rente Anggaran (Tulisan di Lampung Post, 12 November 2013)

Salah satu persoalan yang muncul dalam sektor pembiayaan pembangunan pemerintah adalah keberadaan para pemburu rente yang selalu mengintip peluang memperoleh keuntungan dari setiap mata anggaran negara yang akan dibelanjakan, terutama di ranah pengadaan barang dan jasa. Pemburu rente ini bisa dari kalangan internal birokrasi, pejabat politik, pengusaha, bahkan dari aktor yang secara struktural tidak ada dalam wilayah jabatan formal pemerintahan tetapi memiliki pengaruh dalam menentukan agenda pembangunan pemerintah, baik karena ada kaitan kekerabatan maupun karena hubungan pertemanan yang sangat erat dengan penguasa. Tahanan KPK Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, Suami dari Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany sekaligus adik kandung Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, mungkin termasuk tipe yang terakhir disebutkan. Ia berada diluar struktur pemerintahan, tetapi diduga berperan penting dalam penentuan kebijakan tender proyek-proyek pemerintah di Provinsi Banten dan Tanger