Skip to main content

Posts

PNS Dilarang Kaya?

Penyitaan harta Dhana Widyatmika (DW), mantan pegawai Ditjen Pajak, yang diberitakan memiliki rekening mencurigakan sekitar 60 milliar rupiah, mengundang polemik. Bahkan, sejak penetapannya sebagai tersangka tindak pidana korupsi dan pencucian uang juga sudah menimbulkan perdebatan dan opini beragam, baik yang muncul di media massa maupun di forum jejaring sosial dunia maya. Polemik bermula dari ketidakjelasan bukti yang mendasari penetapannya sebagai tersangka kasus korupsi dan pencucian uang. Jaksa Agung Basrief Arief, sebagaimana dilansir jurnas.com (kamis, 8 Maret), mengatakan masih akan membuktikan bahwa harta kekayaan DW berasal dari tindak pidana. Ia juga mengatakan besaran angka Rp 60 milliar rekening DW tidak jelas sumbernya, mengingat kejaksaan belum menetapkan total temuan dana rekening milik DW. Ini berarti, penetapan DW sebagai tersangka kasus korupsi dan pencucian uang, tidak didasarkan pada bukti yang valid, hanya berdasarkan laporan seseorang. Baru sekedar dugaa...

Rekening Gendut, Beban Moral PNS Muda

Desakan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Muhammad Yusuf agar penegak hukum segera memproses 1.800 laporan transaksi keuangan mencurigakan (LKTM) dari rekening gendut PNS dan lainnya patut kita dukung (Lampost, 11/1/2012). Penuntasan kasus rekening gendut tersebut harus dilakukan untuk memperjelas masalah yang sebenarnya serta untuk membangun optimisme masyarakat terhadap penegakan hukum di negeri ini. Penyelidikan atas kasus tersebut juga penting dilakukan agar tidak “memenjarakan” para PNS muda dalam opini negatif masyarakat. Masyarakat hanya tahu ada kasus rekening gendut PNS muda tanpa pernah tahu tindak lanjut temuan tersebut. Akibatnya, opini terakhir yang mengendap di ingatan masyarakat adalah ada PNS muda yang menyimpan dana milliaran rupiah di rekeningnya yang dicurigai hasil dari penyelewengan anggaran pemerintah. Sulit dicegah jika kemudian masyarakat menganggap kelompok PNS Muda sebagai entitas yang berpotensi menjadi koruptor di birokrasi. H...

Cerpen: IBU

Ibu mengajar anak-anak membaca Alquran. Setiap sore, kecuali jum’at, rumahku ramai dengan suara-suara bocah yang belajar mengaji. Sepengamatanku ada sekitar 30 anak. Untuk aktivitas yang satu ini, Ibu tidak pernah mematok biaya. Prinsipnya yang ia pegang sejak lama tetap tak berubah. Kalau ada rejeki bayar seadanya saja. Kalau nggak ada, ya nggak usah dipaksa. Yang penting anak-anak bisa ngaji. Ini bukan sekedar basa-basi. Aku tahu diantara anak-anak itu ada yang tidak membayar sepeserpun. Entah karena memang tak mampu atau orang tuanya yang tak acuh. Tapi ibu tak pernah mengeluh. Dan tak pernah memberikan perlakuan berbeda. Bila dibandingkan dengan kebiasaan di kampungku, sikap ibu ini amat kontras dan susah dimengerti. Di sini tiap guru ngaji mematok harga tertentu atas jasanya mengajar ngaji. Untuk satu anak bisa ditarik biaya sekitar 25-30 ribuan per bulan. Itu untuk kelas privat alias guru ngaji yang menyambangi murid. Bagi kelas besar setiap anak dikenai biaya lima ribu rupiah. ...

Pelayan Publik

Awal bulan Maret (2011) ini saya mengurus pajak motor ke kantor Samsat. Datang ke kantor pelayanan semacam ini, saya selalu mengamati berbagai aspek yang menunjang pelayanan seperti petugas pelayanan, info alur pelayanan, meja informasi, termasuk ada tidaknya keterangan tata cara pelayanan, jenis layanan, lama pelayanan, serta biaya pelayanan. Yang paling utama adalah sikap petugas pelayanan terhadap konsumen. Saya biasa merujuk pada performance petugas pelayanan di perusahaan seperti Bank, Hotel, atau restoran. Banyak perusahaan bonafid yang dalam pelayanan terhadap konsumen sangat memuaskan. Konsumen benar-benar menjadi raja. Dengan paradigma pemerintahan yang saya pahami sebagai pelayan publik, wajar jika saya pun mengharapkan para petugas pelayanan kantor pemerintah juga menampilkan sikap dan performance yang membuat masyarakat merasa nyaman. Dan itulah pula yang membuat saya selalu menilai kualitas pelayanan di sebuah kantor pemerintah seperti kantor samsat ini. Hari itu saya ...

Tiga Urusan Dunia

Usia lelaki itu telah senja, mungkin menjelang malam. Ia seorang mubaligh (juru dakwah) yang mengaku fokus memperbanyak tabungan akhirat. Baginya, urusan dunia sudah selesai. Urusan dunia itu cuma 3, katanya. Harta, Tahta, dan wanita. Harta? ia pernah merasakan jadi orang kaya. Tahta? ia pernah jadi pejabat publik. Wanita? ia pernah merasakan. Lalu apalagi yang dikejar, cuma itulah urusan dunia. Tak lebih. Kini, ia tengah menambah tabungan akhiratnya dengan memperbanyak membantu orang lain, sesuatu yang sebetulnya sudah sejak lama ia lakukan. Prinsipnya, ia harus melatih fikirannya untuk memikirkan apa saja yang dapaat membantu kesulitan orang lain. Yakin betul ia dengan sebuah hadits: Allah akan membantu hambanya, selama hambanya membantu saudaranya (orang lain). Ia lakukan itu sejak dulu dan mendapat banyak pembuktian akan kebenaran hadits itu. Ia memang kaya pengalaman positif. Begitulah kiranya orang baik menghabiskan umurnya: memupuk banyak kebaikan agar jadi pengalaman in...

Kunci Keberhasilan Pola Kemitraan Bagi Sektor Perikanan

Undang-undang No 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah mendefinisikan kemitraan sebagai kerjasama dalam keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak langsung, atas dasar prinsip saling memerlukan, mempercayai, memperkuat, dan menguntungkan yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan Usaha Besar. Adapun pola kemitraan yang dianut dalam undang-undang tersebut berupa inti-plasma, subkontrak, waralaba, perdagangan umum, distribusi dan keagenan, bagi hasil, kerjasama operasional, usaha patungan ( joint venture ), dan penyumberluaran ( outsourcing ). Dari berbagai pola kemitraan tersebut, penulis tertarik memberikan pandangan terhadap praktik pola kemitraan inti-plasma yang selama ini dijalankan di Indonesia. Pola kemitraan inti-plasma ini diperkenalkan Bank Dunia (World Bank) era 1970-an yang diterapkan dalam program pertanian sebagai pengganti model perkebunan skala besar. Sejak saat itu, Pemerintah Indonesia mengeluarkan serangkaian Keputusan Presiden s...

TIPS BIKIN PIDATO BUPATI

Salah satu kerjaan saya sekarang adalah membuat naskah pidato atau sambutan Bupati. Saya terbantu dengan hobby menulis yang telah diasah sejak kuliah. Kali ini saya ingin membagi pengalaman dengan anda soal bagaimana tips membuat pidato bupati. (Padahal nggak kebayang jadi tukang bikin naskah pidato, dulu sempat terobsesi jadi juru bicara presiden, kayak juru bicara gedung putih) Tipsnya adalah: Pertama , bayangkan bahwa kita-lah bupatinya. Dengan membayangkan kita sebagai bupati, kita akan lebih mudah memikirkan langkah selanjutnya. Hayati berbagai atribut yang melekat pada bupati tersebut: cara bicara, gaya tubuh, posisi politik sambil membayangkan apa yang sebaiknya kita katakan pada pidato tersebut. Kedua , kenali audiens ya. Tiap audiens punya karakter masing-masing yang harus kita sikapi. (Ingat, kita ini bupati). Jangan ngomong istilah asing atau bahasa tinggi jika audiensnya mayoritas berlatar belakang petani misalnya. Bicaralah hal-hal yang gampang mereka cerna. Ketiga , tentu...